Bali Harmoni: Menjaga Tri Hita Karana di Tengah Keberagaman

Buleleng,NUSANTARAMURNI.com – Wakil Ketua DPRD Buleleng,Made Jayadi Asmara, S.Sos menyampaikan pandangan mendalam mengenai pentingnya menjaga toleransi beragama dan melestarikan kekayaan budaya Bali. Dalam sebuah sesi diskusi publik, Made Jayadi menekankan bahwa harmoni sosial di Bali sangat bergantung pada kesadaran kolektif masyarakat untuk saling menghormati keyakinan yang berbeda, sembari tetap memelihara akar budaya lokal yang telah mengakar kuat.

Menurut Made Jayadi, toleransi beragama bukanlah sekadar konsep pasif, melainkan sebuah praksis aktif yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. “Di Bali, kita hidup berdampingan dengan berbagai agama. Nilai-nilai kearifan lokal seperti Tri Hita Karana mengajarkan kita untuk menjaga keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan,” ujarnya. “Maka, toleransi menjadi pilar utama yang menjaga kerukunan, memastikan setiap individu merasa aman dan dihormati dalam menjalankan ibadahnya tanpa merasa terancam.”

Lebih lanjut, Made Jayadi menyoroti kekayaan budaya Bali yang terkenal dengan berbagai karya seni dan tradisi adiluhung. “Bali dijuluki Pulau Seribu Pura bukan tanpa alasan. Setiap pura, setiap upacara, dan setiap ukiran di sini menyimpan filosofi yang mendalam. Ini adalah warisan yang tak ternilai, yang telah dibentuk oleh para leluhur kita,” jelasnya. Ia berpendapat bahwa kemajuan zaman dan arus globalisasi dapat menjadi tantangan, namun juga peluang bagi masyarakat untuk lebih proaktif dalam melestarikan budaya. “Melestarikan budaya bukan hanya tugas seniman atau budayawan, melainkan tanggung jawab kita semua. Ini adalah identitas kita,” tambahnya.

Dalam pandangannya, upaya menjaga toleransi dan melestarikan budaya tidak bisa dilakukan secara parsial. Made Jayadi menekankan pentingnya sinergi antar-pemangku kepentingan (stakeholder). “Pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, lembaga pendidikan, dan seluruh lapisan masyarakat harus bersatu dan bekerja sama. Pemerintah bisa menyediakan regulasi dan dukungan finansial, sementara tokoh agama dan adat bisa menjadi teladan dalam praktik toleransi. Lembaga pendidikan juga harus memasukkan nilai-nilai ini dalam kurikulumnya,” paparnya.

Made jayadi Asmara, S.sos, yang dikenal memiliki misi untuk membawa perubahan yang lebih baik, berharap masyarakat Kabupaten Buleleng dan Bali secara umum dapat menumbuhkan kepedulian yang lebih besar terhadap isu-isu ini. “Saya yakin, dengan kesadaran kolektif dan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat, kita bisa menciptakan Bali yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat dalam toleransi beragama dan kaya akan budayanya,” pungkasnya, menutup sesi dengan ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjadi agen perubahan.

 

AR81