Sinyal Politik dari Panggung Seniman: Teka-Teki ‘Kapuk Boenter’ Menuju Kursi Parlemen 2029.

TABANAN,NUSANTARAMURNI.com– Atmosfer politik di Kabupaten Tabanan mendadak riuh di tengah gemuruh suara gamelan yang masih nyaring terdengar. Sebuah nama yang sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Kerambitan, I Gede Made Ari Marantika, SE, atau yang akrab disapa Kapuk Boenter, kini menjadi pusat pusaran isu politik yang kian memanas menjelang kontestasi Pileg 2029.

Langkah kaki sang penari yang biasanya gemulai di atas panggung seni, kini mulai dibaca sebagai langkah strategis menuju kursi DPR. Dukungan masif dilaporkan mulai mengalir dari akar rumput, menempatkan sosok pemuda karismatik ini sebagai salah satu kandidat kuat yang patut diperhitungkan.

Bukan tanpa alasan nama Kapuk Boenter mencuat ke permukaan. Jejak rekamnya dalam organisasi kepemudaan di Tabanan terbilang cukup mentereng. Saat ini, ia memegang tongkat komando di berbagai lini strategis, antara lain:

 

-Ketua Yowana Kecamatan Kerambitan

 

-Ketua Yowana Desa Adat Bale Agung

 

-Ketua Karang Taruna Desa Kerambitan

Dominasi pengaruhnya di kalangan generasi muda (yowana) dan komitmennya pada pelestarian adat disinyalir menjadi bahan bakar utama munculnya dorongan agar ia beralih dari panggung seni ke panggung politik praktis.

Kapok boenter

Ditemui awak media pada Selasa (10/02/2026), suasana mencekam sekaligus penuh tanda tanya menyelimuti sesi wawancara. Di tengah desakan pertanyaan mengenai kesiapannya bertarung di tahun 2029, Kapuk Boenter memberikan jawaban yang diplomatis namun sarat akan makna mendalam.

“Sampai saat ini saya masih berkesenian. Ngayah ngiring Ide Betara Taksu Pregina. Belum ada benak saya untuk maju ke politik,” ujarnya dengan nada tenang namun tegas.

Meski diterjang gelombang dukungan yang kian hari kian menguat, ia tampak berusaha menjaga jarak dari hiruk-pikuk kekuasaan. Baginya, dedikasi terhadap taksu (jiwa seni) dan pengabdian melalui jalur adat masih menjadi prioritas utama.

Menanggapi fenomena banyaknya dukungan yang mengatasnamakan dirinya untuk maju ke kursi legislatif, Kapuk Boenter hanya tersenyum tipis. Ia menganggap aspirasi tersebut sebagai bentuk apresiasi masyarakat terhadap eksistensinya sebagai seorang seniman dan aktivis sosial.

“Ada pun bentuk dukungan, biarkan sajalah. Mungkin saya didukung untuk terus berkesenian,” pungkasnya, seolah ingin meredam spekulasi yang berkembang.

Kapuk boenter

Namun, di panggung politik Bali yang dinamis, pernyataan “belum terpikirkan” seringkali menjadi babak pembuka dari sebuah kejutan besar. Apakah sang Seniman muda ini akan benar-benar menanggalkan atribut seninya demi kursi parlemen, ataukah ia tetap memilih setia pada jalur pengabdian niskala?

Satu hal yang pasti, nama I Gede Made Ari Marantika kini telah menjadi magnet baru dalam peta politik Tabanan yang kian sulit ditebak.

 

AR81