SOBANGAN,NUSANTARAMURNI.com-Pada hari Sabtu, 25 Oktober 2025, bertepatan dengan Rahina Saniscara Kliwon, krama Banjar Tegalnarungan akan melaksanakan sebuah ritual agung: Nyanggra Piodalan (upacara perayaan hari jadi) di Pura Melanting. Acara sakral ini bukan hanya sebuah kewajiban ritual keagamaan, melainkan juga sebuah momentum signifikan yang merefleksikan kedalaman spiritual, solidaritas sosial, dan harmoni antara kepemimpinan adat dengan kedinasan desa, sebuah cerminan dari filosofi Tri Hita Karana.
Pura Melanting, secara umum, merupakan stana pemujaan bagi Ida Bhatari Melanting atau Ida Ayu Swabawa, yang sering disejajarkan dengan Bhatara Rambut Sedhana (manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa Kemakmuran dan Rezeki). Keberadaannya sangat esensial, terutama bagi para pedagang (wong sané madagang) dan mereka yang bergerak di sektor perekonomian, sebagai tempat memohon kelancaran usaha (kemakmuran), serta menekankan etika berdagang yang jujur. Upacara Piodalan sendiri, atau Pujawali, adalah hari suci peringatan pendirian (atau hari turunnya kekuatan suci) pelinggih di pura tersebut. Pelaksanaan piodalan secara berkala adalah wujud Bhakti dan Yadnya (persembahan suci) oleh umat Hindu sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah kerahayuan (keselamatan dan kesejahteraan) dan kemakmuran yang telah dilimpahkan.
Keistimewaan Piodalan kali ini semakin terasa dengan kehadiran komprehensif dari jajaran pimpinan desa. Prosesi Nyanggra Piodalan (menyambut upacara) akan disokong penuh oleh pilar-pilar kepemimpinan lokal yang dikenal sebagai Tri Tunggal Kepemimpinan Adat dan Dinas di tingkat Banjar dan Desa. Mereka yang dijadwalkan hadir dan berpartisipasi aktif, menunjukkan komitmen terhadap warisan budaya dan keagamaan, meliputi:
Kelian Adat: Figur sentral dalam urusan ritual, adat istiadat, dan pelestarian tradisi, memegang peran penting dalam memastikan kesucian dan kelancaran rangkaian upacara.
Kelian Patis: Biasanya berkaitan dengan pengurus yang mengurus administrasi dan keuangan adat, atau aspek-aspek teknis pelaksanaan kegiatan.
Kelian Subak: Sebagai pemimpin organisasi irigasi tradisional, kehadirannya menyimbolkan harapan akan kelimpahan hasil pertanian, sebuah aspek vital dari kemakmuran yang dipuja di Pura Melanting.
Kelian Dinas Desa: Perwakilan resmi dari pemerintahan desa di tingkat banjar, menegaskan dukungan administratif dan koordinasi antara kepentingan adat dengan program pemerintah desa.
Momen sakral ini juga diperkuat dengan kehadiran sosok Perbekel Sobangan, Bapak I Ketut Tirtayasa. Kehadiran seorang Kepala Desa dalam ritual piodalan di tingkat Banjar dan Pura Fungsional seperti Pura Melanting, melampaui sekadar kehadiran seremonial. Hal ini merupakan sebuah dedikasi nyata dan kepedulian holistik sebagai Kepala Desa, yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik dan administrasi, tetapi juga pada penguatan fondasi spiritual dan kebudayaan masyarakatnya. Keterlibatan Perbekel I Ketut Tirtayasa menegaskan bahwa keberlangsungan tradisi, adat, dan kegiatan keagamaan adalah bagian integral dari visi pembangunan desa yang berkelanjutan dan berlandaskan nilai-nilai luhur kearifan lokal Bali.
Melalui sinergi antara seluruh komponen kepemimpinan ini, Piodalan di Pura Melanting Br. Tegalnarungan diharapkan dapat berjalan lancar (sidha sidaning don) dan membawa kerahayuan bagi seluruh krama Banjar, serta memperkuat jalinan gotong-royong dalam memelihara warisan leluhur.
AR81







