Wujudkan Desa Asri, Tiga Banjar di Buduk Konsisten Gerakkan Kader Bank Sampah

BUDUK,NUSANTARAMURNI.com– Kesadaran masyarakat Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, Badung terhadap pengelolaan limbah rumah tangga semakin menunjukkan tren positif. Hal ini terlihat dari antusiasme kader dan warga di tiga banjar, yakni Banjar Kaja, Banjar Tengah, dan Banjar Umacandi, yang secara serentak melaksanakan kegiatan rutin penimbangan serta pemilahan sampah anorganik pada pekan ini.

Kegiatan yang telah menjadi agenda tetap desa tersebut bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan ujung tombak dalam menekan volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Desa buduk

Sejak pagi hari, para kader bank sampah yang didominasi oleh ibu-ibu PKK sudah bersiap di balai banjar masing-masing. Mereka membawa timbangan digital, buku register, serta karung-karung besar untuk mengelompokkan jenis sampah yang dibawa warga.

Sistem yang diterapkan cukup terorganisir. Warga datang membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah, mulai dari botol plastik (PET), kaleng aluminium, kardus, hingga kertas bekas. Para kader kemudian melakukan:

 

-Verifikasi Jenis: Memastikan sampah dalam keadaan bersih dan kering.

 

-Penimbangan: Menentukan berat presisi untuk dikonversi menjadi nilai rupiah.

 

-Pencatatan: Memasukkan saldo ke dalam buku tabungan bank sampah milik warga.

Bagi warga Banjar Kaja, Tengah, dan Umacandi, bank sampah telah mengubah persepsi terhadap “barang sisa”. Sampah kini dipandang memiliki nilai ekonomi yang bisa ditabung dan dicairkan sewaktu-waktu, terutama menjelang hari raya besar seperti Galungan dan Kuningan.

“Kami melihat ada perubahan perilaku yang signifikan. Dulu mungkin sampah plastik langsung dibakar atau dibuang ke selokan, sekarang warga lebih memilih menyimpannya untuk dibawa ke bank sampah,” ujar salah satu kader di sela-sela kesibukannya mencatat hasil timbangan.

Secara lingkungan, konsistensi ketiga banjar ini membantu Desa Buduk dalam menjalankan program “Desa Bersih”. Dengan memilah sampah di sumber (rumah tangga), residu yang akhirnya dibuang ke TPA berkurang drastis, sehingga beban lingkungan pun semakin ringan.

Desa buduk

Meski sudah berjalan rutin, para kader mengakui masih ada tantangan dalam hal konsistensi pemilahan sampah organik. Fokus saat ini memang masih pada sampah anorganik yang laku dijual ke pengepul besar. Namun, ke depannya, edukasi mengenai pengolahan sampah organik menjadi kompos atau eco-enzyme juga mulai digalakkan di masing-masing banjar.

Pemerintah Desa Buduk sendiri terus memberikan dukungan melalui penyediaan sarana prasarana serta koordinasi dengan pihak ketiga (pengepul) agar harga sampah tetap stabil dan kompetitif bagi warga.

Kegiatan rutin di Banjar Kaja, Tengah, dan Umacandi ini diharapkan mampu menjadi pematik bagi banjar-banjar lain di Desa Buduk untuk semakin masif bergerak. Semangat gotong royong para kader ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bermula dari tindakan kecil di depan teras rumah sendiri.

 

AR81