Menakar Simbiosis Kebijakan Literasi dan Penetrasi Teknologi Endogen. 

DENPASAR,NUSANTARAMURNI.com– Dalam diskursus ekonomi makro yang berlangsung pada Jumat (26/12/2025) sore, akademisi kenamaan Assoc. Prof. Dr, Drs, I Nyoman Tingkes, MM membedah secara komprehensif struktur fundamental mekanisme pasar. Mengusung paradigma “Pasar yang Sehat, Perekonomian Kuat”, diskusi ini mengelaborasi keterkaitan antara modal manusia (human capital), akselerasi teknologi, dan intervensi kebijakan publik di Bali.

Prof. Nyoman Tingkes mengawali paparannya dengan menegaskan bahwa mekanisme pasar bukan sekadar interaksi anonim antara pembeli dan penjual, melainkan sebuah manifestasi dari perilaku agregat yang dipengaruhi oleh tingkat literasi ekonomi.

Dalam konteks permintaan (demand), beliau menyoroti bahwa preferensi konsumen tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ada korelasi sosiologis yang erat antara tingkat pendidikan dengan daya beli serta pola konsumsi. Di sinilah letak relevansi strategis program “1 KK 1 Sarjana” yang digagas oleh Gubernur Bali.

“Investasi pada satu sarjana dalam satu keluarga bukan sekadar upaya pengentasan kemiskinan secara linier, melainkan strategi sistemik untuk meningkatkan derajat market intelligence masyarakat. Pendidikan tinggi mengubah kurva permintaan dari yang bersifat impulsif menjadi rasional dan berbasis nilai tambah,” ujar Prof. Nyoman Tingkes.

Menurut beliau, teknologi bukan lagi faktor eksternal (eksogen) yang jatuh dari langit, melainkan variabel yang harus ditumbuhkan dari dalam sistem produksi. Penggunaan teknologi endogen dalam industri lokal akan menciptakan efisiensi marjinal yang signifikan, memungkinkan para produsen Bali untuk bersaing di pasar global tanpa kehilangan identitas kulturalnya.

Menjawab skeptisisme mengenai sejauh mana pemerintah dapat mengintervensi mekanisme pasar tanpa merusak keseimbangan invisible hand, Prof. Nyoman Tingkes memberikan perspektif yang pragmatis namun intelektual.

Beliau menilai kebijakan pemerintah efektif apabila berperan sebagai fasilitator dan regulator, bukan sebagai substitusi pasar. Kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga tanpa mematikan insentif bagi produsen adalah kunci. Efektivitas ini diukur dari kemampuan kebijakan dalam memitigasi eksternalitas negatif dan memastikan aksesibilitas informasi yang asimetris di pasar dapat diminimalisir.

Sebagai penutup, Prof. Nyoman Tingkes menyimpulkan bahwa mekanisme pasar yang sehat memerlukan keseimbangan dinamis antara:

-Kualitas SDM yang mumpuni (melalui program pendidikan sarjana).

-Inovasi internal (teknologi endogen) yang mendorong produktivitas.

-Kebijakan publik yang presisi dan tidak distorsif.

Pasar yang kuat hanya dapat terwujud jika seluruh komponen bangsa memahami bahwa ekonomi bukan sekadar hitungan angka, melainkan orkestrasi dari kebijakan yang berpihak pada peningkatan harkat manusia.

 

 

🔗Simak terus di kanal YouTube kami:
https://www.youtube.com/@NusantaraMurni

 

AR81