Mahasiswa Bali Kecam Kenaikan Harga Bahan Pokok dan BBM

Denpasar,Nusantaramurni.com-Mahasiswa Bali yang tergabung dalam Aksi Mahasiswa Bergerak Serentak memberikan respons terhadap meningkatnya harga Bahan Pokok Sembako dan Bahan Bakar Minyak (BBM), yang dianggap menyulitkan masyarakat. Kritik juga ditujukan kepada kegagalan pemerintah dalam mengatasi kemelaratan ekonomi, terutama menjelang akhir masa jabatan Presiden Jokowi.

Kenaikan harga Bahan Pokok Sembako, terutama beras, dinilai sangat mengkhawatirkan karena tidak diiringi dengan penanganan khusus dari Pemerintah Pusat. Program Food Estate yang diharapkan mampu mengatasi bencana El Nino juga disorot sebagai kegagalan, memperparah ketahanan pangan.

Andre, salah seorang Mahasiswa, menyoroti bahwa harga beras telah mencapai Rp 18.000 per kilogram menjelang Hari Raya Hindu dan bulan puasa Ramadhan, menambah beban masyarakat Bali yang sudah terdesak.

Owen menanyakan mengapa kenaikan harga beras hanya terjadi di Indonesia, sementara negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam masih bisa mengekspor beras. Putu Marcel menekankan bahwa kenaikan harga bahan pokok menjelang hari raya besar membuat masyarakat Bali terpojok dan tertekan.

Mahasiswa juga menyoroti dampak kenaikan harga terhadap mahasiswa pendatang, seperti yang diungkapkan oleh Aina dari Jakarta. Mereka menuntut Pemerintah untuk menurunkan harga kebutuhan pokok, menjaga ketersediaan stok, serta menolak rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), harga BBM, dan pajak kendaraan bermotor.

Mereka menilai bahwa Pemerintah terlalu fokus pada elektoral sesaat tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Dengan tegas, mereka meminta Pemerintah untuk lebih berempati terhadap kondisi bangsa dan menekankan bahwa kestabilan harga bahan pokok adalah urat nadi kehidupan masyarakat.

 

Meivi