BUDUK,NUSANTARAMURNI.com– Upaya pelestarian dan pemetaan kekayaan budaya lokal di Kabupaten Badung terus digalakkan. Pada Selasa (17/3/2026), bertempat di Kantor Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, sebanyak 14 mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Bina Desa Buduk 2026 secara resmi melakukan audiensi guna memaparkan program kerja strategis bertajuk “Widya Budaya”.
Program ini difokuskan pada inventarisasi dan pemetaan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) sebagai langkah konkret dalam menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Program Widya Budaya dalam Bina Desa tahun ini membawa misi besar bagi perlindungan kekayaan intelektual komunal. Terdapat dua pilar utama yang akan dijalankan oleh para mahasiswa selama masa pengabdian:
Inventarisasi EBT dan HKIK: Melakukan pendataan menyeluruh terhadap Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) serta Hasil Karya Intelektual Komunal (HKIK) yang ada di Desa Buduk agar memiliki basis data yang kuat dan terlindungi secara hukum.
Pilar Edukasi Multibahasa: Menyelenggarakan kelas pembelajaran bahasa yang mencakup Bahasa Bali sebagai upaya pelestarian akar budaya, serta Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang untuk meningkatkan daya saing global masyarakat setempat.
Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Dr. Ni Ketut Puji Astuti Laksmi, S.S., M.Si, yang turut hadir dalam audiensi tersebut, menekankan bahwa kolaborasi antara akademisi dan desa sangat penting untuk memastikan data kebudayaan terpetakan secara akurat dan saintifik.
Kehadiran para mahasiswa ini disambut hangat oleh Pemerintah Desa Buduk. Perbekel Buduk, I Ketut Adi Wira Atmaja, menyatakan apresiasi dan kesiapannya dalam mendukung penuh jalannya program ini.
“Kami sangat terbuka dan mengapresiasi semangat adik-adik mahasiswa. Pemetaan objek kebudayaan ini sangat sinkron dengan visi kami dalam menjaga identitas Desa Buduk sebagai desa yang kaya akan nilai sejarah dan seni,” ujar Ketut Adi Wira Atmaja di sela-sela diskusi.
Audiensi ini juga dihadiri oleh jajaran penting desa, termasuk Sekretaris Desa (Sekdes) Buduk, para Kelian Dinas (Kaling), Ketua dan Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta seluruh perangkat dan staf desa. Interaksi yang berlangsung dinamis ini menunjukkan sinergi kuat antara dunia pendidikan dan pemerintahan tingkat desa.
Melalui program Bina Desa 2026 ini, diharapkan Desa Buduk tidak hanya memiliki dokumen inventarisasi budaya yang lengkap, tetapi juga menciptakan generasi muda desa yang lebih fasih berkomunikasi secara internasional tanpa melupakan jati diri sebagai krama Bali.
Kegiatan audiensi ditutup dengan sesi foto bersama dan diskusi teknis mengenai jadwal pelaksanaan program di masing-masing banjar yang ada di wilayah Desa Buduk.
AR81






