BUDUK,NUSANTARAMURNI.com-Masalah sampah masih menjadi tantangan besar di tingkat daerah, namun Pemerintah Desa Buduk, Kecamatan Mengwi, tidak tinggal diam. Melalui komitmen jangka panjang, Desa Buduk terus mengakselerasi pengelolaan sampah berbasis sumber dengan mengoptimalkan peran Bank Sampah yang tersebar di seluruh wilayah desa.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari strategi besar untuk mengurangi beban pembuangan ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) sekaligus mengubah pola pikir masyarakat dalam memandang limbah rumah tangga.
Setiap dua minggu sekali, suasana di 10 banjar di Desa Buduk tampak lebih sibuk dari biasanya. Sebanyak 50 kader bank sampah (5 orang di setiap banjar) turun tangan langsung mengelola alur masuknya sampah anorganik dari warga. Kegiatan rutin ini menjadi garda terdepan dalam memastikan sampah terpilah dengan baik sebelum meninggalkan lingkungan pemukiman.
Tujuan utamanya jelas: memutus rantai penumpukan sampah di hilir. Dengan melakukan pemilahan ketat di tingkat banjar, volume sampah yang harus diangkut ke TPST berkurang secara signifikan.
Perbekel Buduk, I Ketut Wira Adi Atmaja, menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah bukan hanya soal infrastruktur, melainkan soal kesadaran kolektif. Beliau memiliki visi agar Desa Buduk menjadi pionir dalam pelestarian lingkungan di Kabupaten Badung.
“Kami berharap, ke depan masyarakat bisa lebih teredukasi untuk memilah sampah dari rumah tangga masing-masing. Bank sampah ini adalah wadahnya, tapi kesadaran warga adalah mesin penggeraknya,” ujar I Ketut Wira Adi Atmaja.
Meskipun program ini telah berjalan sejak tahun 2022 dan mendapat dukungan penuh dari APBDes Desa Buduk tahun 2025, Wira mengakui bahwa tantangan terbesar masih terletak pada konsistensi masyarakat. Ia menekankan bahwa edukasi berbasis sumber adalah satu-satunya jalan keluar permanen untuk mengatasi krisis sampah di Badung.
Selain dampak lingkungan, program bank sampah ini menawarkan “bonus” ekonomi bagi warga. Sampah yang telah dipilah—seperti plastik, kertas, dan logam—memiliki nilai jual yang kompetitif. Hal ini menciptakan ekosistem di mana menjaga kebersihan desa berbanding lurus dengan menambah pendapatan rumah tangga.
AR81







