TABANAN,NUSANTARAMURNI.com– Ruang digital seharusnya menjadi jembatan konektivitas, namun belakangan ini justru sering menjadi panggung keretakan hubungan sosial akibat rendahnya etika berkomunikasi. Sorotan tajam datang dari akademisi sekaligus praktisi pendidikan, Filipe Da Costa Meneses, S.Pd., M.Si, yang mengkritisi fenomena pemblokiran kontak WhatsApp secara sepihak tanpa alasan logis.
Dalam sebuah sesi wawancara khusus dengan awak media NusantaraMurni di Gimora Garden, Abiantuwung, Tabanan, pada Rabu (11/02/2026) pagi, Filipe mengungkapkan kegelisahannya terhadap tren “menghilang” di balik teknologi. Bagi dosen STISIP Margarana Tabanan dan Akpar Denpasar ini, tindakan memutus komunikasi tanpa urgensi yang sah adalah cerminan dari ketidakterbukaan mental.

Filipe menekankan bahwa etika digital menjadi sangat krusial ketika menyangkut sosok yang memiliki pengaruh di masyarakat. Menurutnya, seorang publik figur memikul tanggung jawab moral untuk memberikan keteladanan dalam berinteraksi.
“Memblokir WhatsApp tanpa alasan etis atau hanya berdasarkan ego semata adalah bentuk egoisme digital. Apalagi jika pelakunya adalah publik figur yang seharusnya menjadi teladan dalam berkomunikasi secara profesional dan santun,” tegas Filipe.
Ia menambahkan bahwa meskipun setiap individu memiliki hak privasi, dalam konteks sosial dan profesional, transparansi jauh lebih bermartabat. Menutup akses komunikasi secara tiba-tiba tanpa penjelasan dianggap sebagai langkah yang tidak dewasa dan mencederai nilai-nilai kesopanan yang selama ini dijunjung tinggi dalam budaya ketimuran.
Lebih lanjut, Filipe menjelaskan bahwa fitur blokir seharusnya digunakan untuk situasi darurat—seperti pelecehan, ancaman, atau penipuan—bukan sebagai alat untuk menghindari tanggung jawab atau diskusi.
-Pentingnya Edukasi: Literasi digital bukan hanya soal teknis mengoperasikan gawai, tapi soal menjaga adab di ruang virtual.
-Dampak Sosial: Tindakan blokir sepihak dapat menimbulkan spekulasi negatif dan memperburuk konflik yang seharusnya bisa diselesaikan melalui dialog.
-Profesionalisme: Dalam dunia kerja, komunikasi yang terputus secara sepihak dapat menghambat produktivitas dan merusak reputasi jangka panjang.
Wawancara yang berlangsung hangat tersebut mengambil tempat di Gimora Garden, sebuah destinasi yang kini mulai naik daun di kawasan Abiantuwung. Kehadiran tim media disambut langsung dengan ramah oleh Ibu Putri selaku Manajer Gimora Garden.
Tempat ini dipilih bukan tanpa alasan. Selain lokasinya yang asri dan strategis untuk pertemuan formal maupun santai, Gimora Garden menawarkan kualitas kuliner yang mumpuni. Bagi masyarakat yang mencari tempat diskusi yang elegan dengan suasana tenang di Tabanan, menu makanan dan minuman di sini sangat direkomendasikan.
Melalui diskusi ini, Filipe berharap masyarakat—terutama para pemimpin opini—lebih bijak dalam menekan tombol “block”. Sebab, di balik layar ponsel, ada manusia yang tetap berhak mendapatkan penjelasan yang jujur dan santun.
AR81






