Perjuangan Perbekel Sobangan Cetak Generasi Muda Cakap Berbahasa Inggris

SOBANGAN,NUSANTARAMURNI.– Di tengah gempuran modernisasi dan tuntutan persaingan global, sebuah gerakan literasi bahasa muncul dari sudut Banjar Dukuh Moncos, Desa Sobangan. Bukan sekadar kursus biasa, kehadiran bimbingan belajar (Bimbel) Bahasa Inggris bagi anak usia 4 hingga 16 tahun di desa ini menjadi bukti nyata dedikasi seorang pemimpin desa dalam mempersiapkan warganya menjemput impian Indonesia Emas 2045.

Tokoh di balik gerakan ini tak lain adalah I Ketut Tirtayasa, Perbekel Desa Sobangan. Di bawah kepemimpinannya, Sobangan tidak hanya berbenah secara infrastruktur fisik, tetapi juga melakukan investasi besar-besaran pada “infrastruktur otak” atau sumber daya manusia (SDM) sejak usia dini.

Desa sobangan

Pagi itu, suasana di Banjar Dukuh Moncos tampak berbeda. Gelak tawa anak-anak usia prasekolah hingga remaja terdengar riuh, namun ada yang unik: mereka saling menyapa menggunakan bahasa internasional. Program Bimbel Bahasa Inggris ini dirancang khusus untuk merangkul semua lapisan umur, mulai dari pengenalan kosakata dasar bagi balita (4 tahun) hingga percakapan kompleks bagi remaja (16 tahun).

I Ketut Tirtayasa menyadari bahwa kunci untuk bersaing di masa depan adalah komunikasi. Sebagai desa yang berada di wilayah penyangga pariwisata Bali, ia tak ingin pemuda Sobangan hanya menjadi penonton di rumah sendiri.

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh. Saya tidak ingin anak-anak kita minder karena kendala bahasa. Kita mulai dari Banjar Dukuh Moncos untuk menyebarkan semangat ini ke seluruh desa,” ujar Tirtayasa saat ditemui di sela-sela pemantauan kegiatan belajar.

Perjuangan Tirtayasa tidaklah mudah. Mengubah pola pikir masyarakat untuk menyadari pentingnya kursus tambahan di luar sekolah memerlukan pendekatan yang persuasif dan tulus. Ia meyakini bahwa Indonesia Emas 2045 bukan sekadar jargon politik, melainkan target nyata yang harus dipersiapkan dengan keringat saat ini.

Program ini memiliki beberapa keunggulan yang ditekankan oleh pemerintah desa:

-Kurikulum Adaptif: Materi disesuaikan dengan tumbuh kembang anak (metode bermain untuk usia dini dan metode diskusi untuk remaja).

-Aksesibilitas: Lokasi yang dekat di dalam banjar memudahkan orang tua dalam pengawasan dan transportasi.

-Inklusivitas: Menjangkau anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi agar mendapatkan kualitas pengajaran yang setara dengan di kota besar.

Warga setempat pun memberikan apresiasi tinggi. Perjuangan Perbekel Tirtayasa dianggap sebagai “oase” bagi para orang tua yang ingin anaknya maju namun terkendala biaya jika harus mengirim anak ke pusat kota.

“Beliau sangat konsisten. Bukan hanya memberikan fasilitas, tapi sering turun langsung memotivasi anak-anak agar rajin belajar. Sosoknya bukan sekadar pejabat, tapi guru bagi masyarakat,” ujar salah satu orang tua siswa di Banjar Dukuh Moncos.

Desa sobangan

Dengan adanya Bimbel Bahasa Inggris ini, Desa Sobangan kini menjadi percontohan bagi desa-desa di sekitarnya dalam hal pemberdayaan pemuda. I Ketut Tirtayasa telah meletakkan batu pertama bagi fondasi masa depan Sobangan; sebuah masa depan di mana anak-anak desa mampu berbicara kepada dunia dengan penuh percaya diri.

AR81