Bagio Utomo: Dari Properti Membangun Negeri, Kini Fokus Dukung Ketahanan Gizi di Tabanan

TABANAN,NUSANTARAMURNI.com– Nama Bagio Utomo, S.H., sudah tidak asing lagi di dunia properti Kabupaten Tabanan. Pria asal Semarang yang telah menetap dan menjadi warga Bali sejak tahun 1986 ini dikenal sebagai sosok bertangan dingin yang mengawali kariernya dari usaha kecil hingga kini memimpin gurita bisnis di bawah bendera PT Rafikha Abadi Utama.

Namun, pengabdian Bagio bagi Tanah Dewata tidak berhenti pada pembangunan fisik perumahan semata. Melalui Yayasan Arrosikhun Tabanan, Bagio kini mengomandani pendirian Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di beberapa titik strategis di Kabupaten Tabanan guna menyukseskan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Perjalanan Bagio di Bali adalah cermin dari ketekunan “putra daerah” yang mencurahkan hidupnya untuk kemajuan lokal. Mengawali kiprah dengan CV Kharisma di bidang kavling tanah, usahanya bertransformasi menjadi PT Rafikha Abadi Utama yang telah sukses membangun ribuan unit hunian di berbagai wilayah, antara lain:

 

-Kawasan Rajawali: Perum Pesona Rajawali (500 unit) dan Pesona Village (100 unit).

 

-Kawasan Sanggulan: Citra Nirwana Regency, Eco Grand Sanggulan, Panorama Sanggulan, dan The Sanggulan.

 

-Kawasan Kediri & Meliling: Perum Mawar Indah, Rafikha Permai, hingga Rafikha Regency Meliling.

 

-Ekspansi Jembrana: Pengembangan Kaliaja Regency seluas 1,25 hektar.

Kini, fokus utama Bagio Utomo adalah mendukung penuh Program Pemerintah melalui pendirian SPPG. Menurutnya, inisiatif ini bukan sekadar tentang pembagian makanan, melainkan investasi jangka panjang bagi sumber daya manusia Indonesia.

“Kami mengajukan permohonan pembuatan SPPG karena manfaat program ini sangat luar biasa. Pertama, memastikan pemenuhan gizi nasional bagi siswa-siswi mulai dari paud Tk,Sd Sltp,Slta dan ibuk hamil,ibuk menyusui serta balita (B3) Kedua, ini adalah mesin pencetak lapangan kerja,” ujar Bagio Utomo saat ditemui di Tabanan.

Program MBG ini dirancang inklusif. Bagio menegaskan bahwa seluruh siswa dari berbagai lapisan masyarakat, baik yang mampu maupun kurang mampu, akan mendapatkan hak yang sama demi terciptanya generasi emas yang sehat dan cerdas.

Selain dampak kesehatan, pendirian SPPG di bawah Yayasan Arrosikhun diproyeksikan menjadi katalisator ekonomi daerah. Bagio optimis program ini mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam skala besar, mulai dari:

-Sarjana Penggerak Pembangunan (SPPI): Melibatkan lulusan perguruan tinggi sebagai motor penggerak teknis.

-Relawan SPPG ,UMKM & BUMDes: Memperkuat ekosistem ekonomi desa sebagai pemasok bahan baku.

Sinergi Perumda: Melibatkan Perusahaan Umum Daerah untuk menjaga rantai pasok pangan.

“Ini adalah solusi bagi generasi muda yang belum mendapatkan kesempatan kerja. Dengan adanya SPPG, kita menciptakan ekosistem yang menghubungkan sekolah, pemerintah, dan sektor swasta,” tambahnya.

Melalui langkah ini, Bagio Utomo membuktikan bahwa kontribusi seorang pengusaha tidak hanya diukur dari gedung yang ia bangun, tetapi dari seberapa besar dampak sosial yang ia ciptakan bagi masyarakat tempat ia berpijak.

 

AR81