Advokat Muda Endang Bunga Ajak Perempuan Jaga Martabat dan Perkuat ‘Self-Love’

DENPASAR,NUSANTARAMURNI.com– Perayaan Hari Valentine yang jatuh setiap tanggal 14 Februari kerap identik dengan pertukaran cokelat, bunga, dan simbol-simbol romantisme. Namun, bagi praktisi hukum dan aktivis perempuan, momentum ini seharusnya menjadi titik balik bagi kaum perempuan untuk merenungkan kembali makna cinta yang sesungguhnya—yakni mencintai diri sendiri (self-love) dan menjaga martabat.

Ketua Tunas Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Bali, Endang Hastuty Bunga, S.H., menekankan bahwa kasih sayang tidak boleh terjebak dalam seremoni materialistis semata. Menurutnya, Valentine merupakan ruang refleksi untuk menegaskan batasan (boundaries) yang sehat dalam sebuah relasi.

“Cinta sejati bukanlah euforia sesaat yang dirayakan setahun sekali, melainkan kesadaran harian untuk hidup dalam ketenangan, tanpa drama dan tanpa kebutuhan akan validasi semu,” ujar Endang dalam keterangannya di Denpasar.

Endang Hastuty

Sebagai pengacara yang aktif mendampingi kasus perempuan dan anak, Endang mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena hubungan di kalangan anak muda. Ia melihat sering kali simbol-simbol Valentine disalahgunakan sebagai pintu masuk manipulasi emosional.

Dalam praktik hukumnya, ia menemukan bahwa banyak persoalan serius bermula dari relasi yang tampak manis di permukaan namun berakhir pada eksploitasi.

“Rayuan dan perhatian sesaat dapat berubah menjadi tekanan, bahkan kekerasan berbasis relasi. Perempuan, terutama yang masih mencari pengakuan, sering kali menjadi pihak yang paling rentan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Endang mengingatkan bahwa cinta yang sehat tidak akan pernah menghadirkan rasa takut atau tekanan psikologis. Baginya, jika sebuah hubungan sudah mulai merendahkan martabat atau menghilangkan harga diri, maka itu bukan lagi bentuk kasih sayang, melainkan dominasi terselubung.

Sebagai pimpinan Tunas HAMI Bali, ia membawa misi edukasi bagi seluruh perempuan untuk memahami nilai diri mereka:

-Keamanan Emosional: Perempuan berhak dicintai tanpa manipulasi.

 

-Integritas Diri: Menolak dijadikan objek pujian musiman.

 

-Keberanian Bersikap: Konsisten menolak relasi yang merugikan secara mental maupun fisik.

Menutup pernyataannya, Endang mengajak masyarakat untuk berhenti mengukur cinta hanya dari hadiah fisik. Ia menekankan bahwa kasih sayang yang bermartabat tumbuh dari rasa syukur kepada Tuhan dan komitmen untuk memperlakukan sesama secara adil dan beradab.

“Kasih sayang yang bermartabat tidak menunggu tanggal di kalender. Ia hadir setiap hari dalam kesadaran untuk menjaga diri. Perempuan yang kuat adalah perempuan yang mengetahui nilai dirinya dan tidak pernah menukarnya dengan pujian semu,” pungkas pengacara muda tersebut.

AR81