Buduk Pererat Toleransi di Tengah Pertemuan Dua Hari Raya

BUDUK,NUSANTARAMURNI.com– Desa Buduk bersiap menghadapi momen langka sekaligus menantang dalam kalender keagamaan tahun 2026. Seiring dengan berdekatannya perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 dan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah, Pemerintah Desa Buduk menggelar rapat koordinasi lintas sektoral guna memastikan toleransi dan situasi kondusif tetap terjaga.

Pertemuan yang berlangsung pada Selasa (17/3) siang di Kantor Perbekel Buduk ini menjadi krusial, mengingat puncak kedua hari besar tersebut jatuh pada rentang waktu yang hampir bersamaan, yakni 19-20 Maret 2026.

Perbekel Buduk, I Ketut Wira Adi Atmaja, menegaskan bahwa koordinasi ini merupakan tindak lanjut langsung dari Instruksi Gubernur Bali Tahun 2026. Fokus utama adalah menyelaraskan pelaksanaan Malam Takbiran yang bertepatan dengan rangkaian ritual Nyepi.

“Kita berada di ambang momen yang menguji sekaligus memperkuat tenun kebangsaan kita. Sesuai instruksi provinsi, fokus kita adalah bagaimana ibadah tetap berjalan tanpa mencederai kekhusyukan masing-masing umat,” ujar Wira Adi Atmaja di hadapan para tokoh masyarakat.

Dalam rapat tersebut, diputuskan sejumlah aturan teknis mengenai pelaksanaan Malam Takbiran bagi umat Muslim di wilayah Desa Buduk, khususnya di titik-titik pemukiman seperti Banjar Bernasi. Beberapa poin utama kesepakatan meliputi:

-Pembatasan Waktu: Aktivitas takbiran hanya diizinkan mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WITA.

-Lokasi Terbatas: Ibadah dilakukan di masjid atau musala terdekat dengan akses berjalan kaki.

-Ketentuan Atribut: Larangan keras penggunaan pengeras suara luar (sound system), petasan, maupun kembang api demi menjaga kesucian malam pergantian tahun Caka.

“Prinsipnya adalah moderasi. Takbiran diperbolehkan secara terbatas agar saudara kita yang Muslim tetap bisa merayakan kemenangan, namun tetap menghormati persiapan Catur Brata Penyepian,” tambah Perbekel.

Rapat ini dihadiri oleh pemangku kepentingan yang komprehensif, mulai dari Ketua BPD, Bendesa Adat Buduk, Ketua LPM, hingga aparat keamanan Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Kehadiran Tokoh Agama Islam (Bapak Dian) dari Perumahan Rahayu Bernasi bersama para Ketua Lingkungan menunjukkan komitmen dialogis yang kuat.

Ketua Pecalang Desa Adat Buduk dan Danton Satlinmas juga menyatakan kesiapannya untuk melakukan pengamanan persuasif di lapangan. Sinergi ini diharapkan dapat mencegah potensi gesekan dan memastikan seluruh warga, baik di wilayah banjar dinas maupun perumahan, mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.

Menutup pertemuan tersebut, I Ketut Wira Adi Atmaja menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh tokoh yang hadir. Ia berharap Desa Buduk bisa menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengelola keberagaman di tengah padatnya agenda hari besar keagamaan tahun ini.

“Terima kasih atas kedewasaan beragama yang ditunjukkan hari ini. Mari kita buktikan bahwa di Buduk, perbedaan jadwal hari raya justru menjadi jembatan untuk mempererat persaudaraan,” pungkasnya.

 

AR81