PECATU,NUSANTARAMURNI.com— Sekitar 100 pendeta dan pemimpin gereja diaspora Indonesia dari berbagai negara mengikuti Global Diaspora Indonesian Pastors Retreat (GODIP) 2026 yang berlangsung pada 26–29 Mei 2026 di Swiss-Belhotel Pecatu, Bali.

Kegiatan ini dipimpin oleh Pdt. Yongki Santoso, Ketua GODIP, bersama sejumlah pendeta dari berbagai kota besar di Australia. Para peserta hadir dari berbagai komunitas diaspora Indonesia, antara lain dari Australia, Amerika Serikat, Singapura, Korea, Timor Leste, dan Malaysia, serta didukung oleh sejumlah gereja lokal di Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, GODIP 2026 juga melibatkan berbagai pelayanan dan lembaga Kristen, termasuk FGBMFI Indonesia, SOS Global Ministry / Sahabat Orang Sakit, serta Digital Ministry Indonesia melalui pelayanan @inspirasikristen dan @digitalministry.id yang dipimpin oleh Pdt. Rarung Hadiningrat. Tim dari GBI ROCK Bali di bawah pelayanan Pdt. Timotius Arifin juga turut mendampingi rangkaian kegiatan retreat ini.
GODIP berawal dari persekutuan sederhana para pendeta Indonesia di Sydney, Australia, lebih dari 20 tahun lalu. Pada awalnya, kegiatan ini merupakan retreat tahunan para hamba Tuhan dari berbagai denominasi di Sydney yang rindu membangun kebersamaan, doa, dan saling menguatkan dalam pelayanan.
Seiring waktu, persekutuan ini berkembang. Sejak 2015, retreat mulai melibatkan para pendeta diaspora Indonesia dari berbagai negara bagian di Australia. Pada 2018, kegiatan ini berkembang menjadi Australia Indonesian Pastors Retreat dan diselenggarakan secara bergilir di berbagai kota, antara lain Melbourne, Perth, Gold Coast, Darwin, Adelaide, hingga kembali ke Sydney di Terrigal.
Tahun 2026 menjadi langkah baru ketika retreat ini diperluas menjadi Global Diaspora Indonesian Pastors Retreat (GODIP). Bali dipilih sebagai lokasi pertemuan global ini karena posisinya yang strategis sebagai salah satu pintu perjumpaan internasional di Indonesia.
Selama empat hari, para peserta mengikuti rangkaian sesi pembinaan, ibadah, diskusi, doa, persekutuan, dan malam kebersamaan. Beberapa tema yang dibahas antara lain menjaga kesatuan, panggilan pelayanan para gembala, senioritas dan kemitraan, relasi pendeta dengan jemaat dan konseli, peran generasi kedua, serta tantangan pelayanan di ladang diaspora.
Selain sesi utama, suasana retreat juga diwarnai dengan makan malam bersama, sharing, foto bersama, dan malam perayaan. Penutupan kegiatan berlangsung dalam suasana hangat di amphitheatre, dengan Perjamuan Kudus, pesan penutup, dan makan malam kebersamaan.
Melalui GODIP 2026, para pendeta diaspora Indonesia menegaskan pentingnya membangun jejaring pelayanan lintas negara, lintas denominasi, dan lintas generasi. Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat persaudaraan, membangun kerja sama, serta mendorong gereja-gereja diaspora Indonesia untuk terus menjadi berkat di bangsa-bangsa tempat mereka melayani.
Bagi para peserta, retreat ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sebuah ruang perjumpaan untuk mengingat kembali bahwa pelayanan diaspora Indonesia memiliki peran penting dalam membawa nilai-nilai iman, persatuan, dan kasih kepada masyarakat global.
AR81







